Bedah Buku "IMM Autentik"
Notulensi bedah buku online “IMM
AUTENTIK”
Pembedah 1
Pada bab 1 ini dibagi menjadi 2 bahasan.
Pertama membahas tentang IMM. Yaitu refleksi di umur IMM yang ke 53 dan ke 52
agar dapat melanjutkan untuk merawat muruah perjuangan persyarikatan, yang bergerak
dalam prinsip-prinsip etis dalam membina dan memberdayakan masyarakat. Dan
tetap bisa mempertahankan tradisi intelektualnya. Yaitu membaca,menulis, dan
dokumentasi. untuk mewujudkan budaya intelektual sejati, harus sampai pada aksi
dan refleksi.
Sesuai
dengan tujuan IMM yaitu ingin menciptakan akademisi islam bersifat islami, IMM
juga harus melahirkan generasigenerasi yang saleh untuk mengisi setiap lini
kehidupan. Maka setiap kader IMM harus memiliki tiga kompetensi yang disebut
TKD, yaitu intelektualitas, religiusitas, dan humanitas.
Kedua yaitu membahas tentang gerakan literasi
kaum muda muhammadiyah yang harus selalu digiatkan. Tidak hanya berkutat dengan
urusan akademik perkuliahan. Tapi juga melakukan pengembangan dan dialektika
gagasan yang lebih masif dan berkelanjutan.
Kemudian adanya AUM, yang bertugas sebagai
pelopor, pelangsung, dan penyempurna gerakan dakwah Muhammadiyah, juga berperan
sebagai wadah kaderisasi. Untuk membumikan nilai-nilai Islam ke dalam kehidupan
masyarakat, yang berujung pada terciptanya masyarakat Islam yang
sebenar-benarnya. Di umur Muhammadiyah yang ke 104, Muhammadiyah bisa mengambil
peran strategisnya di berbagai aspek kehidupan dengan pengembangan dan
peningkatan mutu amal usahanya.
Jadi pada bab 1 ini adalah sebagai refleksi
bagi kader IMM terkait bagaimana TKD (religiusitas-humanis-intelektualitas)
menjadi tumpu spirit berkemajuan autentisitas dalam bergerak. IMM lahir bukan
untuk eksistensi, melainkan untuk kontribusi nyata untuk ummat.
Pembedah 2
Terima kasih kepada Immawan Mustaqim atas
kesempatan yang diberikan kepada saya, saya akan membedah buku IMM Autentik
pada bab 2 dan membahas per sub bab.
Untuk bagian 2 dengan bab Autentisitas IMM
terdapat 7 sub bab pembahasan. Sub bab pertama mengenai nalar ber-IMM, sebagai
organisator diharuskan dapat manajerial organisasi, manajemen SDM, dan waktu.
Sebagai aktivis IMM perlu adanya untuk memahami IMM secara substansional serta
secara pakem organisasi (AD/ART) serta mengetahui goal bersifat internal maupun
eksternal.
Sub bab kedua yaitu profil kader, NDI merupakan
landasan perjuangan IMM dan terdapat 5 poin didalamnya. Poin pertama, IMM
bergerak dalam bidang keagamaan, kemahasiswaan, dan keagamaan. Poin kedua,
lawan gerakan IMM yang harus diberantas. Poin ketiga, IMM sebagai gerakan
islam. Poin keempat, gerakan mahasiswa berdasarkan islam dan berangkat dari
individu mukmin. Poin kelima kader IMM merupakan inti masyarakat utama. Adanya
profil kader ikatan, kader dituntut memiliki wawasan cendikiaan (tidak terkurung
pada suatu bidang ilmu saja). Hal yang membentuk profil kader didukung oleh
internalisasi nilai-nilai ideologi menjadi aktualisasi dari wacana/ilmu ke
praktis, teks ke konteks, dari pengamalan ke pangalaman, pengalaman kemudian
mengkristalisasi dan jadi jati diri kader.
Sub bab ketiga teologi Al-Maun dan semangat
keperpihakan IMM, Kader IMM sebagai kaum intelektual memiliki semangat
pembebasan dan kemanusiaan untuk membela kaum yang lemah. Disini peran IMM
dibutuhkan untuk membumikan nilai-nilai pergerakan dan cita-cita besar ditengah
masyarakat. Salah satunya dengan pendampingan masyarakat bawah dan menentang
hegemoni kaum elit.
Sub bab
keempat, IMM gerakan : intelektual profetik, setiap amal yang dilakukan IMM
berlandaskan kepada pola pikir logis, teoritis, kritis, dan memiliki pijakan
bergerak. Dakwah IMM sendiri bersifat moderat, modern dan berkemajuan. Politik
IMM bersifat independen terhadap partai dan kepentingan politik. Dalam ISP ada
3 pilar dalam surah Ali Imran ayat 110 yakni amar makruf (humanisasi), nahi
mungkar (liberasi), dan beriman kepada Allah (transendensi).
Sub bab kelima, IMM untuk kemanusiaan, belum
adanya kesadaran universal di masyarakat, masih terdapat perbedaan. Nilai-nilai
kemanusiaan hendaknya bisa mempersatukan tiap-tiap sekat agama, golongan, atau
suku. Agama dalam hal ini juga dapat menjadi pemersatu umat manusia.
Sub bab keenam, IMM dan jihad politik berbasis
kesadaran kritis, IMM bersifat independen , ditegaskan oleh poin ke 4 pada 6
penegasan bahwa gerakan IMM tidak boleh tercemari oleh kepentingan politik
praktis. Selain itu IMM yang bergerak pada ranah kaderisasi diharuskan
menciptakan wadah bagi kadernya untuk berproses dan menempa diri serta
memanfaatkan IMM sebagai ruang dialektika. Dari wadah tersebut nalar kader akan
berkembang, tentu diharuskan untuk membangun dan merawat nalar kritis kader
agar tidak ada sikap alergi terhadap ilmu, politik, sosial, serta filsafat.
Sub bab terakhir, IMMawati dalam tren kekinian.
Di IMM terdapat kesamaan hak antara IMMawan dan IMMawati untuk memimpin dan
mengambil peran strategis. Tidak ada batasan bagi perempuan untuk menjalakan
tugasnya baik di pemerintah, relawan,
dan yang lainnya. Adapun tantangan kaum perempuan pada saat ini yaitu pelurusan
paradigma, perkembangan pergaulan kaum muda, kekerdilan berpikir internal.
Selain tantangan, disebutkan juga tawaran yaitu pelurusan tren, bersifat
inklusif dalam bergaul, dan memperkuat pola kaderisasi. IMMawati harus mampu
mengambil peran dalam IMM maupun diluar dengan prinsip dakwah yang dimiliki dan
sesuai dengan ideologi IMM.
Pertanyaan 1
1. Syiz_IMM_setelah
membaca rangkuman tersebut sungguh bagus dan sempurna diri IMM, namun bagaimana
membangun kesempurnaan diri IMM yg suda tertulis supaya nilai2 tersebut mampu
terideologi kedalam diri kader2 IMM, sehingga dia siap menjadi kader
sebenar2nya kader untuk mampu berkontribusi aktif yg bukan hanya seperti ada yg
menyebut "kader karbitan" kader yg tidak tau apa2 tiba2 melakukan
tanpa mengetahui dasarnya melakukan sesuatu yg mengakibatkan dirinya salah
jalur karna tidak terideologisasi?
Jawaban
Terima kasih kepada Immawati Izat atas pertanyaannya, baik saya akan
menjawab pertanyaan tersebut. Untuk membangun kesempurnaan diri IMM mampu
terideologi kedalam diri kader menurut saya dengan pemahaman secara metodis
yaitu pendekatan kepada kader itu sendiri sehingga kader merasa nyaman setelah
itu dilakukan pemahaman dengan metode diologis yaitu pemahaman mengenai
ideologi,wawasan umum, dan tentang IMM. Ditambah lagi proses pelatihan,
penempaan, dan pendidikan lewat agenda kaderisasi maupun forum diskusi lainnya.
Terima kasih
Izin menambahkan. Menurut saya agar nilai2
tersebut mampu terideologi kedalam diri kader, seperti pada bab 1, dapat
dilakukan dengan tradisi intelektualnya. Yaitu kader bisa diajarkan atau diajak
mengembangkan literasi. Lalu kader juga bisa diajak “turun kejalan” untuk
mengimplementasikan TKD tersebut.
Pertanyaan 2
2. Mira_IMM_saya
ingin bertanya terkait humanitas IMM, kalau menurut Destut De Tracy sebagai penggagas makna ideologi—ideologi
adalah ide-ide dasar yang muncul dari pemikiran manusia. Seperti contohnya
ideologi sosialis. Ia bisa berkembang dan seragam karena diusung oleh satu
orang seperti Karl Marx. Sementara, Islam adalah Agama samawi yang diturunkan
oleh Allah Swt, sang segala Maha. Pertanyaannya, bisakah satu tafsir, satu
pemikiran, dan satu cara pandang yang digagas manusia, mampu mewakili makna
dari apa yang telah diturunkan Tuhan????
Jawaban
izin menjawab pertanyaan Immawati Mira. Menurut
saya tidak bisa. Karna manusia pasti memiliki kekurangan, tidak sempurna. Jadi
bila manusia tersebut sudah menciptakan gagasan, bisa dibilang gagasan tersebut
pasti ada hal yang “cacat”. Sedangkan Allah SWT, yang sudah sempurna disisi
apapun. Maha pencipta yang sempurna, jadi apa yang diturunkan Allah sudah pasti
sempurna dan tidak ada yang cacat. Terimakasih
menambahi jawaban untuk IMMawati mira_satu
tafsir untuk mewakili makna aoa yang diturunkan Tuhan menurut saya tidak bisa.
karena dahulu para sahabat nabi memiliki pengetahuan dan pengalaman yang
berbeda sehingga muncul beberapa penafsiran terhadap ayat-ayat al-Quran.
Terima kasih kepada Immawati Mira atas
pertanyaannya, menurut saya belum tentu semua cara pandang yang digagas manusia
itu mampu mewakili makna yang telah diturunkan Tuhan. Banyak faktor jika
manusia yang memiliki pandangan, manusia bisa saja berfikir dengan tidak ada
batasannya dan mungkin saja manusia tersebut tidak percaya akan adanya
metafisika termasuk Tuhan. Tetapi dilihat dari sisi Islam berfikir tentu masih
ada batasannya. Terima kasih, mungkin untuk teman-teman yang ingin menambahkan
atau mengoreksi.
Pertanyaan 3
3. Jadi
kalo boleh bertanya kepada kedua pembaca buku tsb pertanyaan saya sederhana
saja :
1.
Tentunya kedua pembaca sudah lebih memahami berkaitan dgn isi buku tsb, maka
pertanyaannya apa kritik yg bisa diberikan oleh kedua pembaca kita berkaitan
dgn isi buku tsb?
2. Apa
kelebihan dan kekurangan dari buku tsb menurut perspektif dari kedua pembaca?
Terima kasih atas waktunya.
Jawaban
Terimakasih Immawan disana atas pertanyaannya.
Kelebihan buku tersebut menurut saya bahasanya yang sederhana tidak terlalu
berat mudah dipahami oleh semua kalangan. Meskipun ada mungkin 1 atau 2 kalimat
menggunakan bahasa lain, namun sudah dilengkapi dengan penjelasan disampingnya.
Lalu isi dari buku tersebut nyata. Karena dlengkapi dengan lampiran referensi
yang akurat.
Kekurangan dari buku tersebut, menurut saya
alur yang diberikan kurang runtut. seperti pada salah satu bab, yang awalnya
membahas IMM lalu tiba2 membahas Muhammadiyah.
Terima kasih kepada Immawan Ratantra atas
pertanyaannya. Menurut saya isi dari buku tersebut cukup bagus, tapi ada
beberapa kalimat yang berulang contohnya “ kader harus memiliki wadah” (intinya
seperti ini), untuk sisi religiusitas dari IMM kurang diangkat karena
kebanyakan menyinggung intelektual dan humanitasnya. Kelebihan buku : cukup
menjadi acuan untuk memperbaiki kualitas IMM kedepannya karena didalam buku
juga tertulis masalah-masalah yang dihadapi, misal intelektualitas yang dah merosot.
Untuk kekurangannya sendiri : masik banyak kalimat yang typo (salah dalam
pengetikan). Terima kasih
Pertanyaan 4
4. Baik
Terimkasih Kepada Moderator yang sudah membuka jalanya bedah buku pada malam
ini berkaitan dengan Buku yang ditulis Oleh Ahmad Soleh IMM AUTENTIK, mungkin
disini saya mau menanyakan kepada 2 pembembedah buku pada malam hari ini, yang
kemudian saya ingin bertanya kepada pembedah yang
1. sejauh
mana pembedah memahami isi buku yang ditulis oleh Ahmad soleh Berkaitan dengan
IMM Autentik ini, dan sebenarnya Autentik yang kemudian hadir dalam buku ini
seperti apa terutama dalam hal apa dan ranahnya apa IMM disebut Auntentik.
2. ada yang
kemudian menarik perhatian saya mengengai buku ini adalah mengenai
Intelektulitas dan IMM Sebagai Gerakan Intelektualitas Profetik sebenernya
perbedaan dari kedua hal tersebut seperti apa ?.
3. Berkaitan
Dengan Intelektulias lagi, terutama pada buku IMM Autentik Halaman 19 mengenai
Tradisi Intelektual IMM, kita tahu bahwasanya pada saat ini kita sudah memasuki
yang namanya era disrupsi, Post Trut, dan Post Modernis, dan Terutama
kecangihan teknologi, menurut kedua pembicara atau pemantik bedah buku pada
malam hari ini, bagaimana kemudian menangapi bahwasanya tradisi keilmuan yang
ada pada saat ini sudah memakai cara yang modernt banjir informasi dan
sebagainya yang kemudai menyebabkan terbawa arusnya kedapada hal yang tidak
benar (Hoax dan sebagainya), bagaimana kemudian kita sebagai Kader IMM ini
Merawat nalar berfikir kita dan terus memajukan spirit keilmuannya mengingat
bahwasanya kondisi seperti ini malah kemudian menjadikan kita sebagai kader
ikat mengalami kemunduran dalam hal spirit keilmuan.
Jawaban Pembedah 1
Nomer 1
Terimakasih Immawan hafid atas pertanyaannya.
mencoba menjawab.
1. jadi
pada buku dijelaskan bahwa IMM disebut autentik pada dua ranah, yaitu IMM
sebagai gerakan intelektual, dan IMM sebagai gerakan akhlak.
Tanggapan :Inzin
Mengapi moderator Gerakan Intelektual apa yang kemudian dihadirkan dalam buku
tersebut apakaha hanya Gerakan intelektual Profetikah atau ada gerakan
intelektual yang lain jika kemudian ada mungkin bisa dijelasakan gerakan
seperti apa itu ?
izin menjawab. dalam buku tersebut intelektual
yang dimaksud adalah dengan menggiatkan literasi dan minat baca kader IMM. lalu
dari hasil literasi tersebut diharapkan IMM dapat membantu masyarakat dalam
menghadapi problematika dan merumuskan sendiri solusinya. yang kemudian disebut
gerakan intelektualitas dan gerakan akhlak
Nomor 2
2. sepaham saya intelektualitas IMM melahirkan
ciri khas yang disebut Intelektualitas profetik yaitu didasarkan fondasi aqidah
Islam untuk menjawab berbagai persoalan. mohon maaf apabila ada yang kurang
mohon koreksinya
Tanggapan :kalau
kemudian sepahaman saya gagasan menegenai Gerakan Intelektual profetik itu
kemudian sudah dirumuskan oleh Kuntowijoyo dalam Bukunya Islam Sebagai Ilmu
yang dalam gagasan beliau namaya kalau tidak salah (kalau salah silahkan
dikoreksi bagi semua) yaitu Islam Profetik yang kemudian oleh Muhammad Abdul
Halim Sani Dalam Bukunya Manifesto Gerakan Intelektual Profetik disempurnakan
kalau menurut saya menjadi pribadi menjadi Intelektual Profetik sperti itu
Ilmu Sosial Profetik (ISP), mas hafid, sedikit
koreksi🙏
Nomor 3
3.kemajuan teknologi memang memiliki sisi
positif dan negatif. seperti yang sudah disebutkan immawan yaitu adanya hoax
yang sudah menyebar. menurut saya sebagai kader IMM harus sering2 diadakannya
diskusi. dengan diadakannya diskusi, kita jadi lebih terbuka dan lebih tau
masing masing pendapat orang terkait informasi2 yang ada. sehingga dengan
diskusi juga dapat menambah ilmu baru dan mencegah kemrosotan keilmuan kader
IMM
Jawaban pembedah 2
Terimaksih atas pertanyaannya IMMawan Hafid,
izinkan saya menjawab pertanyaan tersebut.
Nomor 1
1.
Untuk pemahaman, saya belum
memahami secara spesifik dan terkelupas. Menurut saya Autentik disini dalam hal
intelektual dan humanitas. Disebutkan dalam buku bahwa IMM sebagai intelektual yang murni, bersih, dan
semata-mata bergerak untuk kepentingan kemanusiaan dan menjalankan tugas
sebagai khalifah. Sebelum bergerak untuk kepentingan kemanusiaan membutuhkan
intelektualitas agar dapat bijak dalam dinamika ditengah masyarakat. Terima
kasih
Tanggapan ; Izin
Menangapi lagi Moderator sembari pemateri menjawab pertanyan no 2 dan 3 tadi
maaf sebelumnya kalau melangkahi modertor yang terhormat, apakah kemudian IMM
itu hanya berkutat pada ranah intelektual sebagai pijakan saja bukanya kemudian
dalam IMM itu ada yang namanya TKD (Religiusitas, Intelektulitas, dan
Humanitas) kenapa kemudian hanya Intelektual saja yang menjadi dasar bergerak,
apakah kemudian jika didasarkan pada Religiusitas dan Humanitas tidak bisa kah
?
Untuk proses humanisas dan intelektualitas
tetap berlandaskan kepada nilai-nilai religiusitas yang bersumber dari
Al-qur'an dan As sunnah. Terima kasih
Nomor 2
2.
Perbedaan intelektualitas dan
Gerakan Intelektualitas Profetik, menurut saya jika intelektualitas hanya ilmu
sebatas hanya untuk diri sendiri sedangkan gerakan intelektualitas profetik
setiap ilmu yang ditransformasikan dan dijalankan untuk kepentingan bersama.
Nomor 3
3.
Menanggapi tradisi keilmuan
pada era Post Trut, tidak menampik bahwa internet sekarang menjadi poin
penting. Tapi seharusnya sebagai kader intelektual harus dapat memilah
informasi maupun ilmu yang diperoleh di jejaring internet. Mungkin bisa dilihat
dari sumbernya dari mana ataupun acuan bukunya dari mana, dilihad falid atau
tidak. Untuk merawat nalar berpikir, membuatkan wadah membuat basis-basis
diskusi yang bermuatan internet misalnya pemakaian internet positif. Seperti
itu, terima kasih

Komentar
Posting Komentar