Gizi dan Makanan dalam Islam
Gizi
dan makanan dalam islam
By Bidang Medkom
Gizi berasal dari bahasa arab “ Al Gizzai “
yang artinya makanan dan manfaatnya untuk kesehatan . Al Gizzai juga dapat
diartikan sari makanan yang bermanfaat untuk kesehatan.
Islam
mengatur seluruh aspek kehidupan manusia termasuk dalam bidang
kesehatan, salah satunya yaitu ilmu gizi. Islam mengatur umatnya untuk
mengonsumsi makanan yang halal lagi baik dan tidak berlebih-lebihan.
Hal ini tercantum dalam beberapa ayat
al-quran yang menerangkan tentang aturan makan dan minum: “Hai sekalian
manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi,” (QS.
Al-Baqarah: 168); “Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS.
Al-A’raf: 31).
Ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia
diwajibkan untuk mengonsumsi makanan yang halal serta dalam jumlah yang
seimbang. Hal ini sesuai dengan teori yang dikaji dalam ilmu gizi, yang disebut
dengan prinsip gizi seimbang.
Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari–hari
yang mengandung zat-zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan
kebutuhan tubuh, dengan memerhatikan prinsip keanekaragaman atau variasi
makanan, aktivitas fisik, kebersihan, dan berat badan ideal.
Salah satu pilar utama dalam pedoman gizi seimbang
adalah mengonsumsi makanan beragam yang terdiri dari sumber karbohidrat (dapat
berasal dari serealia dan umbi-umbian), sumber vitamin dan mineral (dapat
berasal dari sayur-sayuran dan buah-buahan) dan sumber protein (berasal dari
lauk hewani dan nabati) serta membatasi asupan gula, garam dan minyak.
Ternyata, Al-quran sudah lebih dahulu
mengkaji prinsip gizi seimbang tersebut. Ayat-ayat al-quran telah menyebutkan
berbagai jenis kelompok makanan yang mengandung karbohidrat, vitamin, mineral,
protein dan juga lemak
Pertama, QS. Yusuf: 43 menjelaskan tentang
tanaman gandum. Selain itu, QS. Yaseen: 33 juga menerangkan tentang biji-bijian
yang berbunyi “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah
bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya
biji-bijian, maka daripadanya mereka makan”
Tanaman gandum dan biji-bijian yang
termasuk dalam kelompok pangan serealia mengandung sumber karbohidrat. Kedua,
buah-buahan sebagai sumber vitamin dan mineral juga banyak disebutkan dalam
al-quran yaitu buah anggur, pisang, kurma, tin, zaitun dan delima.
Salah satu ayat yang menerangkan tentang
buah anggur dan kurma adalah (QS Al-Mu’minum: 19) yang artinya adalah “Lalu
dengan air itu, Kami tumbuhkan untuk kamu kebun-kebun kurma dan anggur; di
dalam kebun-kebun itu kamu peroleh buah-buahan yang banyak dan sebahagian dari
buah-buahan itu kamu makan”.
Ketiga, sumber pangan hewani yang banyak
mengandung protein juga disebutkan secara jelas dalam alquran, yaitu daging,
seafoods, dan susu. Ayat alquran yang menerangkan tentang daging adalah QS
Al-An’am: 142-144; QS Al-Maidah: 1 serta QS Ya-Siin: 72 yang berbunyi “Dan Kami
tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi
tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan.” Sementara itu, QS Fatir: 12
menjabarkan tentang makanan laut sedangkan susu ditulis dalam QS An-Nahl: 66.
Terakhir, kelompok makanan sayur-sayuran,
kacang-kacangan dan rempah-rempah pun secara nyata dijabarkan dalam al-quran
yaitu pada QS Al-Baqarah: 61 yang berbunyi “Hai Musa, kami tidak bisa sabar
(tahan) dengan satu macam makanan saja.
Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada
Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu
sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang
merahnya”.
Berdasarkan ayat-ayat diatas, al-quran
telah menyebutkan bahwa manusia diperintahkan untuk mengonsumsi makanan yang
halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, seperti biji-bijian,
buah-buahan, sayur-sayuran, daging, makanan laut, susu, kacang-kacangan hingga
rempah-rempah.
Hal ini sesuai dengan teori gizi seimbang,
dimana tidak ada satupun jenis makanan yang mengandung semua jenis zat gizi
yang dibutuhkan tubuh secara sempurna, kecuali Air Susu Ibu (ASI) untuk bayi
usia 0-6 bulan.
Namun, Allah pun telah memerintahkan
umatnya untuk tidak makan secara berlebih-lebihan yang berarti juga sesuai
dengan konsep gizi seimbang, yaitu proporsi makanan yang sesuai, dalam jumlah
yang cukup, tidak berlebihan dan dilakukan secara teratur

Komentar
Posting Komentar