Roman Di Lantai III (part 1)

Roman di Lantai III ( Part 1)


Oleh Setyo Budi Santoso

"RAPAT PERDANA"


Saat akan dimulai rapat hari kamis, waktu sudah menunjukkan jam setengah empat waktu setempat. Kira-kira demikianlah obrolannya:
Organisasi: “Ayoo segera kumpul, segera kita mulai rapat!!”, Ajaknya singkat dengan wajah serius.
Kader: “Tolong ditunggu teman-teman yang belum hadir”, himbauannya hangat dengan jiwa khas kebersamaan.
Riset, & Pengembangan Keilmuan (RPK): “Kemarin yang tugas bedah buku sebelum rapat dimulai siapa ya, tolong disiapkan??”, dia mengingatkan sambil menjalankan program kerjanya.
Semua bidang nolah-noleh, seperti sedang mencari subyek yang dimaksud RPK. Sosma langsung nyeletuk “Kemarin seingatku hikmah lhoo”.
zZZz..zZZzzz.zzZZZZ.. tiba-tiba hape Ketum bergetar. “Pak, sorry aku terlambat. Baru bangun tidur ini.” Demikian bunyi pesan singkat di layar smartphone  terbarunya. Setelah ketum menyampaikan kabar keterlambatan hikmah ke forum, IMMawati segera mengusulkan “Bedah buku oleh Hikmah diganti tausyiah oleh IMMawati saja, kebetulan bertepatan hari Ibu”, ujarnya dengan anggun.
Belum selesai IMMawati memberikan usul, tiba-tiba Bendum memecah suasana. “Sebelum mulai rapat, atau tausyiah.. Tolong yang belum bayar kas, segera dilunasin”. Wajah cantik bendum pun mulai pudar oleh raut kegeramannya. Sekum yang sedari awal tadi tampak sibuk sendiri dengan komputer komisariat segera merespon, “Santai aja keles, ini khan rapat perdana. Mana ada yang udah lunas”.
Media & Komunikasi (Medkom), subyek paling gaul di komisariat lantas berujar, “Bu bendum yang cantik, mulai besok pengumuman yang belum bayar Kas biar tak umumkan via grup FB aja. Biar rasain loe.. malu ya malu.”
Tak terasa 30 menit sudah dihabiskan, rapat pun tak kunjung dimulai. Dakwah & Kajian keislaman lantas mengingatkan “Astaghfirullah, kawan-kawan rapat kita mulai jam berapa?? Ingat surat Al Ashr”.
Tiba-tiba ada subyek datang menuju komisariat. “Assalamualaikum.. rapatnya sudah mau dimulai yaa. Maaf saya Ekonomi & Kewirausahaan datang terlambat, maklum subyek baru di komisariat ini”. ujarnya ramah.
LSPEU lantas berdiri, “Helloooooww... siapa yaa... kamu khan yang kemarin tidak jadi disahkan ketika Musykom”, kilahnya sedikit tersinggung. “Laah.. saya sudah terlanjur datang kesini”, sambung Ekonomi & Kewirausahaan datar menyimpan kesedihan.
Hikmah yang baru datang pun ikut menyahut sambil berjalan dari luar komisariat. “Hei kamu, dilantik saja tidak. Kalau mau jadi bidang baru belajar dulu politik dan retorika, biar besok bisa gol saat Musykom”. Hikmah tampak petentang-petenteng seperti orator di pertigaan gerbang kampus. Lagaknya memang selalu begitu, seolah tidak merasa bersalah karena terbiasa terlambat datang rapat.|| to be continued

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peluang dan Tantangan Program Apotek Desa Merah Putih dalam Mewujudkan UHC: Apakah Ancaman bagi Lapangan Kerja Apoteker?

Air Keras Dan Kekerasan : Ketika Zat Kimia Dijadikan Alat Untuk Membungkam

Ketika Istilah ‘D3 Apoteker’ Muncul : Kesalahan Label atau Sinyal Baru?